Ambudi Makmur 2 sudah punya pijakan sebagai kelompok tani yang inovatif di Bangkalan. Namun agar bertahan dan berkembang dalam persaingan agribisnis, mereka perlu strategi yang matang dan adaptasi terhadap tantangan zaman.
Analisis SWOT & Strategi
Berdasarkan studi, berikut poin-poin SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman) dan strategi yang dapat diterapkan:
Kekuatan:
Kemudahan memperoleh bahan baku karena lokasi kebun salak berada di sekitar area pengolahan.
Sudah memiliki merk dan label yang dikenal (merk “KRAMAT”).
Legalitas usaha yang sudah diurus (izin usaha) dan kemasan menarik.
Kelemahan:
Teknologi sederhana dan kapasitas terbatas, membuat produksi tidak bisa cepat ditingkatkan.
Jangkauan pemasaran yang masih sempit dan pemasaran tradisional.
Peluang:
Permintaan produk olahan salak meningkat, terutama jika dikemas bagus dan dipasarkan dengan baik.
Konsumen makin tertarik produk lokal berkualitas tinggi.
Potensi ekspansi paket oleh-oleh salak (tourism linked).
Ancaman:
Banyaknya produk camilan atau olahan buah lain yang menjadi pesaing.
Kesulitan mempertahankan kontinuitas bahan baku saat musim bukan panen.
Strategi yang Disarankan:
Peningkatan Teknologi — investasi alat produksi lebih besar agar mampu mengolah jumlah besar.
Diversifikasi Produk — menambah varian olahan menarik yang sesuai tren konsumen.
Kemasan & Branding — memperkuat brand “KRAMAT” dan meningkatkan tampilan kemasan agar menarik.
Pemasaran Online — memanfaatkan media sosial dan marketplace agar produk lebih dikenal luas.
Kolaborasi dan Pelatihan — menjalin kerjasama dengan kampus, Dinas Pertanian, atau lembaga lain untuk transfer ilmu dan pengembangan.
Kesimpulan
Ambudi Makmur 2 memiliki landasan kuat dari sisi sumber daya dan kreativitas produk. Dengan strategi yang tepat—terutama memperkuat aspek pemasaran, teknologi, dan sinergi—mereka punya peluang besar menjadi kelompok tani unggulan di Madura bahkan di luar daerah. Tantangan memang ada, tetapi bukan halangan jika dikelola dengan baik.

0 Comments